Resesi ekonomi, pengertian, dampak, dan contoh lengkap

Resesi ekonomi, pengertian, dampak, dan contoh lengkapresesi

Bank Dunia telah memperingatkan bahwa resesi global sudah dekat. Presiden Bank Dunia David Malpass bahkan mengungkapkan pesimisme tentang apakah negara-negara di dunia dapat menghindari resesi.

Bank Dunia mengatakan dalam laporan Prospek Ekonomi Global (GEP) Juni 2022 bahwa tekanan inflasi yang tinggi di banyak negara tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Pernyataan Bank Dunia semakin menambah daftar mereka yang menyatakan potensi resesi. Wall Street dan bank sentral di seluruh dunia sebelumnya telah memperingatkan penurunan tajam dalam ekonomi dunia.

Tetapi banyak orang tidak mengerti apa itu resesi?

Mengutip dari laman ojk.go.id, secara sederhana, resesi adalah situasi di mana perekonomian suatu negara memburuk dalam hal produk domestik bruto (PDB) negatif, pengangguran yang meningkat, dan pertumbuhan negatif dua kuartal berturut-turut secara riil. ekonomi. .

Negara-negara maju seperti AS, Eropa dan Jepang juga diperkirakan akan tergelincir ke dalam resesi akibat kenaikan inflasi.

Dari detikFinance, menurut laporan Federal Reserve, pertumbuhan ekonomi AS akan menurun pada kuartal kedua tahun 2021.

Ekonomi AS tumbuh hanya 0,9% pada kuartal kedua, menurut GDPNow Fed Atlanta, yang melacak produk domestik bruto (PDB). Ekonomi AS tumbuh hanya 1,5% pada kuartal terakhir.

Ancaman resesi telah menandai Amerika Serikat kewalahan oleh tantangan ekonomi yang ditimbulkan oleh pasca-pandemi dan perang di Ukraina. Bank-bank sentral bergegas menaikkan suku bunga untuk menahan inflasi, sebagian karena efek perang di Ukraina dan pandemi COVID-19.

Salah satunya adalah bank sentral AS, Federal Reserve, yang baru-baru ini menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,75%. Selain itu, kenaikan harga telah dilaporkan untuk hampir semua jenis komoditas di Amerika Serikat.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia juga terancam oleh gelombang resesi global?

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan Indonesia masih dalam ancaman resesi. Namun, risiko Indonesia menghadapi resesi relatif rendah, hanya 3%, menurut survei yang dilakukan oleh Bloomberg.

“Survei Bloomberg menunjukkan bahwa beberapa negara bisa memiliki risiko resesi lebih dari 70%. Sekarang, kami ditanya bahwa Indonesia berada di ujung bawah, tetapi kami masih menanyakan pertanyaan itu. Kami (Indonesia) relatif dalam situasi tersebut. Disebutkan, risikonya 3 persen,” katanya dalam konferensi pers di Nusa Tenggara. Dua, Bali, Rabu (13 Juli 2022).

Meski begitu, Sri Mulyani mengatakan pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan resesi.

“Seperti negara-negara lain, kemungkinan resesi jauh lebih tinggi dari 70%. Ini tidak berarti bahwa kita berpuas diri, kita waspada, tetapi pesannya adalah bahwa kita akan terus menggunakan semua alat kebijakan kita. Baik itu kebijakan fiskal. , kebijakan moneter Kebijakan dan regulasi OJK di sektor keuangan.”Yang lain memantaunya, terutama regulasi risiko dari perusahaan Indonesia,” jelasnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih cukup positif, sehingga ia yakin Indonesia masih bisa bertahan. Dia juga membuat perbandingan dengan krisis keuangan 2008.

“Artinya kita harus belajar dari krisis global 2008, sektor korporasi, sektor keuangan, APBN, sektor moneter, semuanya berusaha untuk memperkuat diri menghadapi risiko saat ini. Kita berada dalam situasi di mana Ketahanan kita masih lebih baik, makanya kita sebut rating yang lebih rendah,” pungkasnya.

Apa yang harus disiapkan untuk meminimalkan dampak resesi?

Bersiaplah untuk resesi

Meminimalkan dampak dari tinjauan keuangan yang mungkin terjadi, kita dapat mempersiapkan keuangan kita. Berikut petunjuk dari laman ojk.go.id:

1. Siapkan dana darurat

Pastikan untuk mengalokasikan 20% dana investasi Anda ke dana darurat, yang disimpan dalam instrumen yang sangat likuid, dan persiapkan dana ini dengan disiplin. Semakin tinggi rasionya, semakin baik persiapan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda dalam resesi.

Dana darurat ini penting karena Anda bisa kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat Anda bekerja tutup atau bangkrut karena resesi.

2. Lebih sedikit keluarga

Mulailah mengurangi daripada meningkatkan pengeluaran seperti utang. Bayar segera jika memungkinkan. Jangan anggap enteng, meski hanya dari kartu kredit, karena saat resesi melanda, Anda tidak akan tahu keuangan Anda.

3. Lihat portofolio Anda

Jika kondisi pasar global mulai menurun, segera atur ulang portofolio Anda ke bentuk yang lebih aman, seperti emas.

4. Hidup sederhana
Hidup lebih baik. Terus belanja seperti biasa karena ini membantu ekonomi terus tumbuh. Karena konsumsi masyarakat berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi kita

Meski masih mendahulukan kebutuhan, Anda tetap perlu terus menyisihkan uang untuk tabungan dan investasi. Kurangi membeli barang-barang yang tidak terlalu Anda butuhkan, terutama jika itu hanya untuk kesenangan jangka pendek.

5. Fokus pada pembangunan ekonomi
Ikuti perkembangan terkini kondisi ekonomi dan mulailah memanfaatkan peluang di sekitar Anda yang mungkin bernilai ekonomi. Jika Anda merasa keadaan keuangan Anda masih buruk, jangan ragu untuk memulai usaha kecil-kecilan.

Tetap optimis, resesi adalah bagian dari siklus bisnis atau ekonomi. Namun, kami harus mengatasinya dan pulih sesegera mungkin.